Jakarta — Pengalaman akademik di luar negeri tidak hanya memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan keilmuan, tetapi juga membuka ruang untuk memahami secara langsung dinamika sosial, politik, dan kehidupan kenegaraan di negara lain. Hal tersebut dialami oleh Kenessov Azamat, mahasiswa tingkat dua program studi Hukum pada Abylai Khan Kazakh University of International Relations and World Languages, Kazakhstan, yang saat ini mengikuti program pertukaran akademik di UPN Veteran Jakarta dengan fokus kajian Hukum Internasional.

Di tengah pelaksanaan program pertukaran tersebut, Azamat turut mengambil bagian dalam momentum politik negaranya. Pada 23 Agustus 2026, ia mendatangi Kedutaan Besar Republik Kazakhstan di Jakarta untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan anggota Kurultai Kazakhstan.

Bagi Azamat, keikutsertaan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar menjalankan prosedur pemungutan suara. Berada ribuan kilometer dari Kazakhstan, kesempatan untuk memberikan suara menjadi pengalaman yang mempertemukan kehidupan akademiknya di Indonesia dengan tanggung jawab kewarganegaraannya sebagai warga Kazakhstan.

“Being thousands of kilometers away from my home country, I had the opportunity to participate directly in its political life and express my civic position.”

Kurultai dan Tradisi Pengambilan Keputusan dalam Sejarah Kazakhstan

Kurultai memiliki akar sejarah yang kuat dalam tradisi masyarakat Kazakh. Dalam sejarahnya, Kurultai merupakan forum pertemuan yang melibatkan khan, sultan, biy, batyr, serta berbagai unsur masyarakat untuk membahas persoalan penting yang berkaitan dengan kehidupan negara dan masyarakat.

Berbagai persoalan strategis, mulai dari kebijakan dalam negeri, hubungan antarkelompok, pertahanan, hubungan luar negeri, hingga kepemimpinan, menjadi bagian dari pembahasan dalam forum tersebut. Karakter utama Kurultai terletak pada proses pembahasan dan konsultasi sebelum sebuah keputusan penting diambil.

Tradisi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan perkembangan hukum tradisional masyarakat Kazakh. Salah satunya terlihat melalui peran Council of Biys serta penyusunan Zheti Zhargy pada masa pemerintahan Tauke Khan, yang mencerminkan pentingnya musyawarah dan konsensus dalam kehidupan masyarakat.

Berita Terkait :  FH UPNVJ Gelar Rapat Evaluasi ZI 2025 dan Matangkan Pengisian Data ZI Tahun 2026

Sejumlah wilayah seperti Ulytau, Turkistan, dan Ordabasy juga memiliki arti penting dalam sejarah Kurultai karena tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertemuan, tetapi juga memiliki nilai historis, spiritual, dan simbolis bagi masyarakat Kazakhstan.

Salah satu momentum yang dikenal dalam sejarah tersebut adalah Kurultai Ordabasy pada 1726, ketika masyarakat Kazakh menghadapi ancaman Dzungar. Pertemuan yang melibatkan perwakilan dari tiga zhuz Kazakh tersebut menjadi salah satu simbol penting persatuan dan upaya membangun kekuatan bersama dalam menghadapi tantangan yang dihadapi bangsa.

Dari Tradisi Historis Menuju Partisipasi Politik Modern

Seiring dengan perkembangan sistem ketatanegaraan Kazakhstan, bentuk Kurultai mengalami perubahan. Sistem pemerintahan tradisional berbasis kekhanan tidak lagi menjadi bagian dari sistem politik modern. Kazakhstan kemudian membangun sistem pemerintahan yang menempatkan lembaga-lembaga representatif sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan negara.

Dalam konteks modern tersebut, gagasan mengenai representasi dan partisipasi masyarakat memperoleh bentuk baru melalui Kurultai.

Pemilihan anggota Kurultai pada 23 Agustus 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan tersebut. Pemilu dilaksanakan dengan sistem proporsional, dengan masa jabatan anggota terpilih selama lima tahun. Tujuh partai politik berpartisipasi dengan membawa gagasan dan program masing-masing mengenai arah pembangunan Kazakhstan.

Bagi Azamat, perkembangan tersebut menarik untuk dilihat dalam perspektif sejarah. Menurutnya, meskipun mekanisme partisipasi politik telah berubah, terdapat kesinambungan nilai antara Kurultai tradisional dan partisipasi politik masyarakat Kazakhstan saat ini, terutama dalam aspek representasi, musyawarah, tanggung jawab, dan keterlibatan masyarakat dalam menentukan masa depan negara.

Memberikan Suara dari Jakarta

Keberadaan tempat pemungutan suara di perwakilan diplomatik Kazakhstan di luar negeri memungkinkan warga negara Kazakhstan yang sedang berada di negara lain tetap berpartisipasi dalam proses politik nasional.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan Azamat selama menjalani program pertukaran akademik di Jakarta. Kehadirannya di Kedutaan Besar Republik Kazakhstan menjadi pengalaman yang menurutnya memberikan perspektif baru terhadap hubungan antara sejarah, kewarganegaraan, dan kehidupan politik modern.

Berita Terkait :  Dosen Fakultas Hukum UPNVJ Luncurkan Buku “Kewarganegaraan Progresif: Membangun Karakter, Menegakkan Keadilan”

Sebagai mahasiswa hukum yang sedang mendalami Hukum Internasional, pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar ruang kelas. Kehidupan akademik di Indonesia memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana seorang mahasiswa dapat tetap mempertahankan keterlibatan kewarganegaraan sekaligus beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial yang berbeda.

Pengalaman yang Mempertemukan Akademik, Sejarah, dan Kewarganegaraan

Pengalaman Azamat menjadi gambaran bahwa program pertukaran mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pengembangan kompetensi akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi pertukaran perspektif mengenai hukum, demokrasi, kebudayaan, dan kehidupan bernegara.

Menariknya, pengalaman tersebut juga memiliki hubungan akademik yang kuat. Azamat merupakan mahasiswa Abylai Khan Kazakh University of International Relations and World Languages, universitas yang juga menjadi almamater Aibek Dadebay, yang disebut dalam narasi sebagai Ketua Kurultai Kazakhstan yang terpilih melalui pemungutan suara rahasia.

Bagi Azamat, keterkaitan tersebut menjadi pengalaman yang semakin bermakna. Ia tidak hanya menyaksikan perkembangan institusi politik negaranya dari jauh, tetapi juga dapat berpartisipasi secara langsung dalam proses tersebut ketika sedang menjalani pendidikan di Indonesia.

Pada akhirnya, pengalaman memberikan suara di Jakarta menjadi refleksi tersendiri bagi Azamat mengenai hubungan antara masa lalu dan masa kini. Kurultai tradisional dan Kurultai dalam sistem politik modern tentu memiliki struktur, mekanisme, dan fungsi yang berbeda. Namun, menurutnya, terdapat nilai yang tetap relevan, yaitu pentingnya partisipasi, representasi, musyawarah, dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan bahwa jarak geografis tidak menghilangkan keterhubungan seorang warga negara dengan kehidupan bangsanya.

Dari Jakarta, melalui satu suara, Azamat merasakan secara langsung bagaimana sejarah panjang tradisi Kurultai terus menemukan bentuknya dalam kehidupan Kazakhstan modern.

Share

Contact Us

×